Kamis, 24 November 2016

musrianti munaf bloggers : Catatan Gadis




Adakah  Asa diantara tetesan air mata ?
           
Cahaya tidak lagi terpancar diwajahnya, basah kedua pipinya dengan air mata yang seolah menceritakan keluhnya, bahkan mata yang memerah  tidak lagi mampu untuk ingkar, sekalipun untuk menjelaskan bahwa hatinya baik-baik saja. Mentari mulai meredupkan cahayanya, magic hour yang indah akan terlewati dengan tangisan. Pilu sekali melihat wajahnya yang tak lagi menyisahkan senyum walau hanya selembut nafas. 

          “Tuhan, aku telah terlalu dalam mengikatkan hati padanya, kubiarkan semuanya mengalir sendiri, tanpa pernah aku paksakan. Ku percayakan semuanya tanpa pernah menanti pamrih, ku jalani dengan keyakinan tanpa pernah mencari sebab. Namun mengapa ia justru ingkar pada ucapannya?” ucapnya dalam hati sambil memandangi sekeping foto ditangannya.
Kemudian, ada yang menghetikannya. Tatkala adzan dari arah timur bergema ditelinganya. Dengan sigap tangis yang terseduh – seduh kemudian berhenti perlahan. Kedua tangannya kemudian menghapus sisa tetesan air mata, yang basah dipipinya. Wajahnya kemudian memandang kearah masjid. Matanya menatap dengan begitu lemah, seolah menegaskan bahwa dirinya sedang rapuh.
Seperti merasa terpanggil, bergegaslah sang gadis masuk kedalam rumahnya. Air wudhu kemudian menggantikan posisi air mata yang membasahi pipinya. Seolah mengisyaratkan sebuah harapan yang mungkinakan hadir untuk senyum kecil diwajahnya. Ia adalah Widhy seorang gadis yang menangisi kekasihnya, kekasih yang telah membohongi kepercayaannya. Kekasih yang sempat menjelaskannya tentang kejujuran justru memilih untuk melakukan kebohongan.
“dulu aku adalah gadis yang sempat tidak percaya dengan kata Cinta, aku trauma untuk sebuah hubungan. Sepupuku harus menderita karena pernikahan, harus sakit karena pernikahan, putus sekolah karena pernikahan, itu karena mereka jatuh cinta. dan orangtua ku mereka harus rela meninggalkan keluarga masing-masing demi menyatukan cinta mereka, dan kemudian aku lahir hanya punya ayah dan ibu, tidak untuk keluarga besar. Aku menganggap laki-laki ada hanya untuk jadi patner dalam bisnis, aku bahkan berupaya membuktikan bahwa aku mampu hidup tanpa seorang pendamping. Namun, kemudian seseorang datang. Membawa sebuah musim dalam hidupku! Yang ternyata mengubah cerita dalam hidupku. Membuatku mampu mencintai tanpa memikirkan alasan, bahkan tidak pernah menanyakan alasan. Dia membawa aku untuk hari –hari yang penuh dengan senyuman. Penuh dengan keromantisan, dan didalam dirinya aku seolah menemukan yang aku cari. Tapi mengapa? Kemudian tanpa menjelaskan kepadaku, dia pergi untuk cerita baru dalam hidupnya, bahkan saat dimana dia tidak berubah sedikipun kepadaku.” Jelasnya menceritakan kisahnya dengan sang kekasih
Tuhan mempertemukan dua insan, bisa dengan cara apapun. Tapi sedikit pun kita tidak akan bisa mengetahui. Untuk apa pertemuan itu. Sebelumnya widhy mungkin meyakini, bahwa dirinya dan Rehan (kekasihnya) dipertemukan untuk saling mencintai, mungkin dia terlena. Sehingga lupa bahwa pada saatnya nanti manusia itu tetap ditentukan oleh takdirnya. Sebab diantara yang kita fahami, Tuhan justru jauh lebih mengerti, karena diantara yang kita minta, Tuhan hanya memberikan yang kita butuhkan sebab itu jauh lebih baik.
Tenang saja mungkin dia tidak diakdirkan sebagai pengantinmu. Tapi percayalah kamu tidak akan rugi bila memutuskan bertukar undangan dengannya.  Cobalah untuk menengok bahwa diantara satu harapan yang hilang ada harapan lain setelahnya. Diantara tangis yang ada jangan pernah untuk melupakan asa yang tetap harus kamu rajuk sedemikian rupa. Seperti sebelumnya, saat dimana kamu yakin bahwa kamu mampu hidup tanpa pasangan, nyatanya kamu pun mampu merasakan jatuh cinta. dan sekarang mungkin kamu perlu untuk merasakan patah hati, untuk kamu menemukan cinta yang lebih indah, lebih baik, dan mungkin adalah takdirmu. percayalah jatuh cinta itu tidak lengkap tanpa patah hati.


Terima Kasih Sudah Membaca !

1 komentar: